GANGGUAN BERBICARA "GAGAP"

GANGGUAN BERBICARA "GAGAP"
Erlina Dwi Saputri (A1D117018)
erlinadwisaputri99@gmail.com

LATAR BELAKANG
Gagap atau stuttering merupakan salah satu bentuk kelainan berbicara yang ditandai dengan terhambatnya pengucapan kata-kata. Penyandang gagap diakibatkan oleh kelainan bawaan yang menyerang sistem saraf atau otak. Gagap terjadi ketika sebagian kata terasa lenyap, penutur mengetahui kata itu, akan tetapi tidak dapat menghasilkan sebuah kata yang sempurna atau utuh dalam penyebutannya (Cahyono, 1994:262).
Pendapat lainnya menyatakan bahwa gagap adalah masalah bicara yang mempengaruhi kafasihan atau kelancaran dalam berbicara. Seseorang yang mengalami kesulitan ini ditandai dengan pengulangan bagian pertama dari kata yang ingin diucapkannya atau menahan bunyi tunggal ditengah kata. Sebagian ornag yang mengalami gagap malah lebih parah, tidak ada satupun kata yang terucap, semua tertahan di kerongkongan.
Pada kenyataannya, tiba-tiba anak kehilangan ide untuk mengucapkan apa yang ingin dia ungkapkan sehingga suara yang keluar terpatah-patah dan diulang-ulang sampai tidak mampu mengeluarkan bunyi suara sedikitpun untuk beberapa lama. Reaksi ini bersamaan dengan kekejangan otot leher dan diafragma yan disebabkan oleh tidak sempurnanya koordinasu otot-otot bicara. Bila ketegangan sudah berlalu, maka akan muncul serentetan kata-kata sampai ada kekejangan otot lagi.
Berdasarkan kata pengantar yang telah diuraikan penelitian bertujuan untuk mengetahui apa penyebab dari gagap dan bagaimana penanganan bagi orang yang mengalami gagap.

PEMBAHASAN
1. Menurut jurnal penelitian yang dilakukan oleh Praba Prayasctta, Widodo dan Karkono tentang “Produksi Kalimat Pada Penyandang Gagap” dari hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan tiga macam hal yang berpengaruh pada produksi kalimat penyandang gagap yaitu struktur kalimat, penjedaan atau senyapan, dan perilaku penyerta. Struktur kalimat penyandang gagap yang ditemukan dalam penelitian ini meliputi (1) struktur kalimat teratur, (2) struktur kalimat lompat, dan (3) struktur kalimat tidak tuntas. Produksi kalimat yang dihasilkan oleh penyandang gagap tidak selalu teratur sesuai dengan pola yang baik dalam bahasa Indonesua serta tidak memiliki koherensi yang baik. Struktur kalimat tidak baku ini biasanya disebabkan karena produksi kalimat tidak utuh (pelesapan), produksi kalimat tidak selesai, produksi kalimat yang memiliki lebih dari satu makna, hingga produksi kalimat yang tidak sesuai konsep pikiran.
2. Menurut artikel penelitian yang dilakukan oleh Putu andika Yana tentang “Empathic Love Therapy Untuk Menurunkan Kecemasan Pada Orang Dengan Gangguan Gagap” dari hasil penilitian yang telah dilakukan bahwa orang dengan gangguan gagap berbicara dengan penekanan fisik yang berlebihan seperti sulit bernafas, mata berkedip cepat, mulut bergetar dan ekspresi wajah seperti berjuang keras untuk berbicara. Empathic Love Therapy disusun untuk menurunkan kecemasan pada orang dengan gangguan gagap melalui penyembuhan pada primal wounding di masa anak-anak yang merupakan akar munculnya kecemasan dan kegagapan. Komponen Empathic Love yang menyembuhkan adalah cinta yang penuh empati. Kemampuan mengambil jarak terhadap luka akan membantu orang dengan gangguan gagap melepaskan diri dari dari identidikasi yang selama ini diletakkan pada dirinya seperti tidak kompeten dalam berkomunikasi, akan selalu bertolak dan kehilangan kepercayaan diri secara utuh. Jadi tujuan dari penelitian ini adalah memahami proses terapeutik Empathic Love Therapy dalam menurunkan kecemasan orang dengan gangguan gagap sehingga tidak lagi mengalami double approach-avoidance conflict. Terapi ini dapat menjadi alternatif terapi bagi orang dengan gangguan gagap yang mengalami kecemasan mengenai kegagapan dan komunikasinya.
3. Menurut Artikel Skripsi yang dilakukan oleh Yussy Arga Zakiyan tentang “Studi Kasus Kepercayaan Diri Siswi "Snis" Yang Memiliki Gangguan Bicara Gagap” dari hasil penelitian yang dilakukan adalah penelitian berfokus pada “SNIS” yang memiliki gangguna bicara gagap. Subjek memiliki kepercayaan diri yang cukup baik. Sikap subjek yang menyadari akan kekurangan dan kelebihannya serta memiliki sikap ramah dan berbicara lembut kepada orang lain, memiliki cita-cita yang tinggi serta keyakinan akan kemampuannya untuk bisa membawanya menuju kesuksesan adalah bukti dari subjek memiliki kepercayaan diri. Serta faktor yang dominan mempengaruhi kepercayaan dirinya juga timbul dari dalam diri subjek yang selalu berfikir positif terhadap kehidupannya di masa depan, serta faktor yang mendukung kepada diri subjek sendiri adalah dukungan keluarga dan lingkungan sekolah yang turut mendorong dan membantu proses peningkatan kepercayaan diri subjek ini.

1. PENYEBAB GANGGUAN GAGAP
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
Faktor-faktor stres dalam kehidupan berkeluarga.
Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
Faktor neurotik famial.
Nujaya (2013) menyatakan bahwa gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Faktor fisik kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, dan keterbatasan lidah. Sedangkan faktor psikologis yaitu ketagangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap linngkungan, diantaranya adalah stres mental karena sesuatu yang dirasakan namun tidak mampu untuk dilakukan. Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibandingkan fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis.

2. SOLUSI
Gagap tidak akan berlanjut sampai dewasa apabila anak segera diterapi dengan baik. Terapi gagap berfokus pada kelainan lidah atau laring. Saat ini modalitas terapi gagap berdasarkan prinsip perilaku yang bertujuan untuk menghasilkan bicara yang lebih fasih, disertai pengurangan kecemasan yang berhubungan dengan gangguan bicara. Selain itu, dukungan dari lingkungan keluarga dan sekitarnya juga menjadi faktor penting dalam usaha penyembuhan gangguan gagap ini. Jika kanak-kanak dalam kurun waktu yang cukup lama masih menunjukkan kegagapannya dalam berbicara, maka diperlukan adanya konsultasi dengan ahli, baik itu dokter syaraf untuk mengetahui kerusakan pada bagian syaraf tertentu, atau dengan psikolog untuk mengatasi masalah kecemasan yang dimiliki anak.
Dukungan dari orang tua dan juga guru dalam menangi siswa yang mengalami gangguan berbicara “gagap”, dapat dilakukan dengan menumbuh kepercayaan diri pada siswa dan meminta siswa untuk berfikir positif  akan kemampuan dan kekurangan yang dimiliki oleh siswa.


DAFTAR PUSTAKA
Prayascitta, P., Widodo, Karkono. 2013. Produksi Kalimat Pada Penyandang Gagap. Universitas Negeri Malang, Malang. Diakses dari http://jurnal-online.um.ac.id/article/do/detail-article/1/11/1388

Yana, Putu ardika. 2016. Empathic Love Therapy Untuk Menurunkan Kecemasan Pada Orang Dengan Gangguan Gagap. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Diperoleh dari https://jurnal.ugm.ac.id/gamajpp/article/view/41767

Zakiyah, Yussy Arga. 2018. Studi Kasus Kepercayaan Diri Siswi "Snis" Yang Memiliki Gangguan Bicara Gagap. Universitar Nusantara PGRI, Kediri. Diakses dari http://simki.unpkediri.ac.id/mahasiswa/file_artikel/2018/14.1.01.01.0034.pdf

Diakses Dari
https://www.academia.edu/34024686/ANALISIS_GANGGUAN_GAGAP_Oleh_Anita_Anggraini_NIM_14016028


Komentar

Postingan Populer